ASAP mengepul di ruangan menyebar beraneka aroma buah-buahan maupun bunga-bungaan. Itulah rokok khas Arab, atau lebih dikenal dengan istilah “shisha”. Trend ini mulai menjamur di beberapa kafe atau restoran di Jakarta. Peminatnya, siapa lagi kalau bukan anak muda yang selalu gandrung hal-hal baru, yang belum tentu baik bagi kese-hatan mereka.
Seorang remaja putri yang se-dang asyik menikmati shisha, berujar, “Asapnya lebih banyak dan berasa. Ada sensasi seru pas ngisep, setahuku tidak bernikotin jadi tidak buruk bagi kesehatan”. Cewek itu bernama Amelya, penikmat shisha sejak kelas 3 SMP. Berbeda dengan Richal yang ber-wajah masem, seperti menahan sesuatu. Ketika ditanya ten-tang shisha, Richal berpendapat, “Saya tak tahan dengan asapnya, hanya karena diajak teman, maka-nya saya ada di sini”.
Apa itu shisha? Shisha adalah kegia-tan mengisap temba-kau Arab dengan pe-rangkat yang terdiri dari pipa—biasa dise-but hookah atau bong—yang tersam-bung dengan selang panjang. Prinsip kerja-nya: tembakau dipa-naskan dan menghasilkan uap yang kemudian disaring sebelum dihirup. Selain hookah, bahan baku shisha terbuat dari tembakau.
Kini ada sekitar 30 rasa temba-kau, mulai dari buah-buahan, coke-lat, vanila, dan masih banyak lagi. Tembakau shisha hanya me-ngandung maksimal 0,05 persen nikotin dan 0 persen tar. Shisha merupakan rokok tradisional di jazirah Timur Tengah, yang meng-gunakan ektrak buah pengganti tembakau yang dibakar menggu-nakan batu bara. Prosesnya meng-gunakan air sebagai filter hingga meminimalisir kadar nikotin yang masuk ke tubuh.
baca selanjutnya,..