
Seorang remaja putri yang se-dang asyik menikmati shisha, berujar, “Asapnya lebih banyak dan berasa. Ada sensasi seru pas ngisep, setahuku tidak bernikotin jadi tidak buruk bagi kesehatan”. Cewek itu bernama Amelya, penikmat shisha sejak kelas 3 SMP. Berbeda dengan Richal yang ber-wajah masem, seperti menahan sesuatu. Ketika ditanya ten-tang shisha, Richal berpendapat, “Saya tak tahan dengan asapnya, hanya karena diajak teman, maka-nya saya ada di sini”.
Shisha adalah kegia-tan mengisap temba-kau Arab dengan pe-rangkat yang terdiri dari pipa—biasa dise-but hookah atau bong—yang tersam-bung dengan selang panjang. Prinsip kerja-nya: tembakau dipa-naskan dan menghasilkan uap yang kemudian disaring sebelum dihirup. Selain hookah, bahan baku shisha terbuat dari tembakau.
Kini ada sekitar 30 rasa temba-kau, mulai dari buah-buahan, coke-lat, vanila, dan masih banyak lagi. Tembakau shisha hanya me-ngandung maksimal 0,05 persen nikotin dan 0 persen tar. Shisha merupakan rokok tradisional di jazirah Timur Tengah, yang meng-gunakan ektrak buah pengganti tembakau yang dibakar menggu-nakan batu bara. Prosesnya meng-gunakan air sebagai filter hingga meminimalisir kadar nikotin yang masuk ke tubuh.baca selanjutnya,..


TADINYA Ayu bercita-cita untuk menjadi biarawati, karena ingin berbuat sesuatu untuk menolong orang lain. Namun wajangan sang ayah dan ibunda, Petrus de Alkantara dan Christina Winanti, bahwa “un-tuk bisa menolong orang lain tidak harus menjadi biarawati”, membuat dia mengubah cita-cita. Setelah merenungkan dalam-dalam petuah kedua orang tuanya itu, akhirnya wanita bernama lengkap Maria Veronika Ayu Florensa ini pun ingin menjadi perawat, yang baginya merupakan profesi yang tidak kalah mulia dibanding biarawati.
NONGKRONG, sering diterjemahkan sebagai duduk santai buang waktu tanpa arti. Namun anggapan ini terbalik untuk kumpulan anak-anak muda yang kerap nongkrong di Taman Suropati, Jakarta. Coba ikuti apa yang mereka lakukan setiap hari Minggu dari pukul 13.00 hingga malam hari? Ada beberapa divisi yang tersebar di ujung taman, mu-lai dari divisi gesek: biola, viola, celo. Gitar: akustik nelon. Tiup: saxophone, fluit, trombon, kralinet. Teater. Sastra: puisi, Inggris/Je-pang. Seni rupa; sketsa: lukis.
membina anak-anak jalanan, dan menghidupkan taman-taman di Indonesia. Jumlah siswa, mahasiswa, hingga peng-usaha dan pengacara semakin hari semakin bertambah yang berga-bung dengan Kotaseni. Kemam-puan seni mereka diasah setiap minggu. Namun dikenakan biaya sebesar Rp 200 ribu untuk pendaf-taran awal dan belajar perbulan. Iuran kolektif ini dipakai untuk ke-butuhan internal mereka. Tapi yang didapat adalah sesuatu yang sangat berarti. Selain dibina men-jadi seniman profesional, di sini me-reka menemukan suasana keke-luargaan, bahkan kesempatan ber-kreasi dan berapresiasi. Dan semua ini berawal dari “nongkrong” di Taman Suropati ini. Ikatan emosi sebagai sesama seniman sangat terasa jika duduk bersama mereka. Keunikan komunitas ini patut dicontoh dan didukung, sebagai kontribusi bagi perkembangan seni dan budaya di Indonesia. Walaupun demikian masih saja ada kesulitan perijinan bagi mereka. 





















